Monday, 15 February 2016

Hukum di Masa Depan

Ulasan Anime: Psycho Pass Season 1 dan Season 2

Selamat datang. Bagi anda yang secara tidak sengaja mengakses link dan konten ini—bagaimanapun caranya—saya akan memberitahukan anda bahwa halaman ini bukanlah tempat di mana anda akan menemukan jenis link download apapun untuk mengunduh anime yang akan saya bahas sebentar lagi. Ulasan ini memang datang terlambat apabila melihat tanggal peluncuran anime-nya sendiri. Tidak hanya itu, saya meminta maaf terlebih dahulu untuk segala kesalahan apapun yang muncul dalam ulasan ini karena ini merupakan percobaan pertama saya dalam membuat tulisan semacam ini. Spoilers alert! Saya tidak yakin saya akan mampu untuk menahan diri saya sendiri untuk tidak membocorkan seluruh alur dalam anime ini, maka dari itu apabila anda belum siap dan merasa keberatan untuk mendengar bocoran ceritanya silahkan tonton dulu anime-nya dan kembali lagi kesini…Ya?

Karena ini merupakan ulasan anime pertama yang saya tulis saya tidak akan mendikte setiap episode satu per satu. Pembahasan yang saya berikan akan bersifat seluas-luasnya dan cenderung terpusat pada masing-masing season yang ada. Saya akan mencoba untuk merubah cara pembahasan saya apabila anda menyarankan demikian—semoga—akan tetapi untuk sekarang sepertinya akan lebih mudah bagi saya untuk menyimpulkan ulasan saya terhadap anime yang ada sebagai sebuah tulisan yang padat dan tersusun tanpa harus menceritakan kembali detil-detil cerita dalam setiap episode-nya.
Season Pertama



Season pertama dari anime ini terdiri atas 22 episode, dan masing-masing kurang lebih berdurasi selama 20 menit. Formatnya secara keseluruhan tidak jauh berbeda dengan anime lain pada umumnya, berkaitan dengan durasi dan jumlah episode dalam masing-masing musimnya. Anehnya, salinan yang saya tonton hanya terdiri atas 11 episode akan tetapi durasinya mencapai 40 menit. Pada dasarnya, apa yang saya tonton tersebut adalah penggabungan dari dua episode berdurasi normal, dan jika dihitung (22 episode dengan durasi 40 menit dibagi dengan 2 sama dengan 11 episode dengan durasi 20 menit atau lebih) anda akan mengerti—semoga. Ceritanya kurang lebih sama, akan tetapi penyajiannya terlihat lebih dipadatkan.

Sebuah contoh visual dari anime Psycho Pass ini

Melanjutkan ulasan ini pada hal-hal lain yang bersifat mendasar dan jelas terlihat, bagian pembuka berasamaan dengan lagu yang mengiringinya terlihat cukup sederhana. Pemilihan gaya visual dalam bagian pembukanya tidak terlihat terlalu berbeda dengan anime-nya, dan apa yang ditampilkan di dalamnya terlihat tidak membocorkan terlalu banyak informasi, berkaitan dengan petunjuk atas kematian-kematian tertentu, karakter yang muncul dan lain sebagainya. Berbicara mengenai musik, saya tidak keberatan dengan pemilihan lagunya akan tetapi apa yang dipilih bukanlah sesuatu yang saya mampu untuk dengarkan berulang-ulang.

Gaya visual anime yang dipergunakan dalam Psycho Pass ini terlihat tidak jauh berbeda  dengan animeanime lain yang diluncurkan sekitaran tahun 2012 dan seterusnya, terutama berkaitan dengan kekayaan juga kedalaman warna dan pergerakan yang halus dari gambar ke gambar. Penekanan ekspresi wajah yang dihadirkan memang tidak seberlebihan apa yang diperlihatkan dalam Attack on Titan, akan tetapi penyajian yang ditunjukkan terlihat cukup untuk bias menggambarkan kekacauan dan ketegangan yang terjadi sesuai dengan alur ceritanya.

Contoh penggunaan gambar CGI atau 3D dalam anime ini

 Tidak hanya itu, penyajian visual yang dihadirkan juga terlihat mengingkut sertakan gambar-gambar tiga dimensi dalam beberapa objeknya, seperti robot sebagaimana yang diperlihatkan dalam gambar di atas, gedung-gedung sebagai latar, dan lain-lain. Pendekatan tersebut bisa dianggap menjadi sebuah daya tarik visual untuk anime tersebut; layaknya pendekatan serupa yang dipergunakan dalam Gundam Unicorn misalnya.  

Kekerasan dan darah dapat ditemukan dalam anime ini, dan bahkan bisa dianggap salah satu unsur yang dijadikan bagian utama dari susunan anime tersebut. Saya tidak merasa terlalu terganggu atas apa yang diperlihatkan, dan kebrutalan yang dihadirkan terlihat tidak terlalu dilebih-lebihkan sebagaimana yang dimunculkan dalam Another misalkan. Tidak hanya itu, saya bisa mengatakan bahwa kekerasan yang dihadirkan bukanlah kebrutalan yang paling menjijikan yang pernah saya temukan dalam sebuah anime.

Alur cerita Psycho Pass ini berlatarkan Jepang pada abad ke-22 di mana tingkah laku dan tingkat moralitas masyarakatnya dinilai di bawah sebuah sistem yang bernama Sibyl. Di masa yang akan datang orang-orang telah berhasil menemukan sebuah cara untuk mengukur koefisien-koefisien psikologis yang kita miliki sehingga sistem yang ada dapat dengan mudahnya menentukan hal-hal yang seharusnya dan dianggap dapat membuat kita bahagia. Tidak hanya itu, sistem tersebut juga mampu menentukan koefisien-koefisien tertentu yang dapat menunjukkan apakah seseorang itu “baik” atau “jahat”.

Dominator
Perhatian kita selama alur cerita akan terpusat pada Akane atau Tsumemori Akane yang merupakan seorang anggota baru di dalam sebuah lembaga seperti polisi yang mengendalikan kekacauan apapun yang diakibatkan oleh seorang latent criminal yang melanggar aturan. Menariknya, cara yang coba digunakan Sibyl untuk mengendalikan masyarakatnya adalah dengan memerintahkan latent criminal lain yang dianggapnya memiliki potensi untuk menegakan “keadilan” yang ada. Pada dasarnya, pendekatan yang diperlihatkan tersebut menempatkan seorang pembunuh untuk menghentikan pembunuh yang lain. Tidak hanya itu, dalam menegakan peraturan tersebut baik para inspector/ inspektur (orang yang berkewenangan untuk mengendalikan dan memerintah para polisi “jahat” di bawah sistem Sibyl) dan Enforcer (para penjahat yang “bekerja” di bawah para inspektur dan Sibyl) dilengkapi dengan pistol khusus bernama Dominator. Pistol-pistol tersebut secara nirkabel terhubung dengan Sibyl dan segala fungsi yang dijalankannya pun kembali dikendalikan oleh sistem yang ada.

Konflik yang disajikan dalam alur cerita anime ini, pada akhirnya, menempatkan kita pada posisi yang abu-abu, sebagaimana dengan pertanyaan-pertanyaan berkaitan dengan moralitas dan keadilan yang juga dimunculkan dalam Death Note—menurut pendapat saya sendiri tentunya. Meskipun tidak se-mistis buku dan para dewa kematian dalam Death Note, permasalahan yang diperlihatkan dalam sistem Sibyl dan prosedur pengadilan a la Dominator pada akhirnya mengarah pada pembongkaran dan munculnya keraguan atas keadilan yang ada di dalam masyarakat yang dimunculkan. Tokoh antagonis utama dalam musim pertama ini bernama Makishima Shougo. Makishima menciptakan sebuah kericuhan dalam masyarakat dan bahkan di dalam pikiran para inspektur dan enforcer melalui ketidaknormalannya yaitu kemampuan untuk tidak memiliki nilai koefisien kejahatan yang tinggi meskipun setelah melakukan berbagaimacam kejahatan.

Nilai dari hukum yang dibentuk Sibyl pun mulai hancur di saat kita bisa melihat bagaimana banyak sekali orang-orang tidak bersalah yang salah diadili. Adegan di mana teman Akane mati karena kesalahan perhitungan pada Dominator yang dimilikinya membuat saya jengkel. Insiden tersebut menunjukkan kelemahan yang dimiliki oleh sistem Sibyl itu sendiri di saat penilaian terhadap perilaku seseorang hanya dilandasi oleh angka dan koefisien yang tidak selalu dapat dihubungkan dengan perbuatan baik ataupun jahat yang sebenarnya dilakukan dan terjadi. Pendekatan tersebut bisa saja dikatakan adil akan tetapi penilaian tersebut hanya datang dari sistem yang memang memunculkan peraturan tersebut. Tidak hanya itu, hal lain yang membuat saya jengkel adalah ketidakmampuan yang dimiliki Akane untuk bisa memutuskan sesuatu dengan kemampuannya sendiri. Tumbuh besar di dalam sebuah masyarakat di mana masing-masing aspek kehidupan seseorang telah ditentukan sebelumnya melalui koefisien psikologis yang dimiliki, Akane terlihat tidak memiliki kemampuan untuk memutuskan sesuatu dan hanya bisa mengikuti perintah dan peraturan Sibyl itu sendiri. Akane memang diperlihatkan mengalami perubahan dalam hal pola pemikiran dan tindakan selama musim 1 berlangsung, akan tetapi dalam perisitwa tersebut kita bisa melihat seberapa kejam dan anehnya sistem Sibyl tersebut. Selain itu, Akane memang mencoba untuk menembak Makishima sang penjahat dengan pistol biasa akan tetapi dia gagal karena Akane tidak siap dan mampu (baik secara fisik ataupun mental sebagai akibat dari pengaruh masyarakat yang ada terhadap dirinya) untuk mengambil resiko dan mengemban tanggung jawab sebesar itu.

Dalam episode terakhir kita pun akhirnya diperlihatkan rumus perhitungan yang digunakan dalam Sibyl, dan kita mengetahui bahwa kericuhan terkait Makishima pada dasarnya di landasi oleh keinginan Sibyl untuk mengikutsertakan ketidaknormalan keadaan psikologis yang dimiliki oleh Makishima sebagai bagian dari panel suara Sibyl—yang tersusun atas banyak otak yang memiliki ketidaknormalan yang serupa dengan Makishima. Keputusan alur cerita untuk membiarkan sistem Sibyl “menang” dapat dengan mudahnya dianggap sebagai sebuah pemberian petunjuk akan adanya musim kedua. Tidak hanya itu, akses yang secara tiba-tiba didapatkan Akane berkaitan dengan wujud sebenarnya dari Sibyl menunjukkan sebuah masalah lain yang belum benar-benar terpecahkan sehingga hanya terlihat sebagai petunjuk tambahan akan adanya cerita lanjutan. Keadaan tersebut memperlihatkan adanya perbedaan pendapat dan sudut pandang yang dimiliki Akane terkait dengan keadilan dan peraturan yang diagung-agukan dalam masyarakat yang ditinggalinya. Selain itu, keadaan yang serupa juga memperlihatkan sejauh mana kekuatan yang dimiliki oleh sebuah sistem kuasa tanpa menghiraukan kekurangan dan “kejahatan” yang juga dimiliki sistem yang bersangkutan. Meskipun Akane dan Kogame terlihat ragu dan memiliki pendapat yang berbeda dengan Sibyl, tempat mereka di dalam masyarakat yang hanya sebagai seorang individu sekaligus menjadi poin bagi sistem yang mereka coba lawan mau tidak mau menjadi halangan yang terbesar bagi keduanya untuk benar-benar memperbaiki atau bahkan merubah sistem tersebut.    

Hal lain yang saya ingin bahas lebih lanjut adalah keberadaan anekaragam rujukan yang diperlihatkan oleh anime ini. Hal-hal terkait rujukan dalam bentuk ataupun karya apapun sudah menjadi hal yang saya minati. Berbeda dengan beberapa anime lain yang mencoba untuk menghadirkan rujukan sebagai sebuah satir seperti Sket Dance atau Gintama, rujukan-rujukan yang diperlihatkan dalam Psycho Pass terlihat lebih serius di saat apa yang dihadirkan merupakan tulisan-tulisan atau wacana-wacana dari berbagai penulis, ahli, pakar atau bahkan filsuf di luar Jepang yang cukup familiar—untuk saya—dan mungkin cukup asing bagi orang pada umumnya. Salah satu rujukan yang cukup menarik perhatian adalah buku bacaan yang dibaca Kogami saat sedang memulihkan dirinya, “The Heart of Darkness” karya Joseph Conrad. Sebagai seorang lulusan Sastra Inggris, keberadaan karya sastra yang cukup ikonik di dalam sebuah anime merupakan sebuah pemandangan yang aneh sekaligus menyenangkan. Walaupun saya belum melakukan penelitian yang lebih lanjut terkait relevansi yang dimiliki oleh buku tersebut dengan alur Psycho Pass ini, keberadaan buku tersebut saja sudah menjadi sebuah alasan baru bagi saya untuk mendalami karya anime yang semakin banyak ditonton dan disukai orang ini. Selain itu, terdapat beberapa kesempatan di mana tokoh-tokoh terlihat membicarakan berbagaimacam wacana dan teori-teori Barat yang berkaitan dengan psikologi dan konsep masyarakat. Salah satunya adalah konsep milik Foucault terkait dengan istilah panopticon; sebuah konsep kendali atau kuasa yang menyerupai sebuah penjara di mana terdapat sebuah menara kendali yang mengawasi dari tengah sementara ruang-ruang penjaranya diletakan di sekelilingnya—baca tulisan Foucault-nya sendiri jika anda ingin benar-benar memahami. Berkaitan dengan korelasinya dengan alur cerita anime ini, hal yang cukup jelas terlihat adalah persamaan konsep tersebut dengan sistem Sibyl yang dihadirkan. Sibyl terlihat ditempatkan sebagai pusat dari masyarakat dan di saat yang sama memiliki kendali untuk mengatur anggota masyarakatnya melalui berbagai macam metode yang sudah dijabarkan—keberadaan Dominator, perhitungan koefisien psikologis—walaupun pada akhirnya pola pengaturan tersebut terlihat menempatkan orang-orang ke dalam sebuah penjara. Sebuah metode pengurungan yang lambat laun menghilangkan keberadaan anggota-anggotanya sebagai seorang individu dengan mengubahnya hanya menjadi angka dan koefisien semata.

Season Kedua

Bagian pembukan Season kedua
 Melihat penjabaran saya yang terlihat sudah terlalu banyak mengulas musim yang pertama, pemaparan saya terkait musim yang kedua semoga tidak sama panjangnya.
Musim kedua Psycho Pass ini lebih pendek dalam hal jumlah episodenya yang hanya 11 episode saja. Dibandingkan dengan bagian pembuka yang dihadirkan dalam musim yang pertama, bagian pembuka di musim kedua ini terlihat lebih rumit walau tanpa menghadirkan gambar-gambar yang dapat membocorkan alur ceritanya secara keseluruhan. Bagian pembuka yang dihadirkan terlihat terdiri atas banyak gambar-gambar subliminal yang cukup mengerikan dan ‘gelap’. Lagu “Enigmatic Feeling” oleh by Ling Tosite Sigure (凛として時雨 Rin Toshite Shigure, lit. Cold Seasonal Rain)[i] yang mengiringi gambar-gambar tersebut juga terlihat sesuai dengan kerumitdan yang coba digambarkan melalui bagian pembuka musim kedua ini.

Mereka terlihat sama...atau setidaknya memiliki aura yang sama (?)
 Melihat beberapa gambar dari bagian pembuka yang dihadirkan, Akane menjadi pemeran utama di musim kedua ini di saat Kogami, sayangnya, tiba-tiba menghilang—mungkin sebagai akibat dari kejahatan dan tindakan yang dilakukannya di musim yang pertama. Sebagai akibat dari kematian ayahnya di musim yang pertama, koefisien inspektur Ginoza meningkat sehingga dirinya di tempatkan sebagai seorang enforcer baru di bawah perintah Akane. Selain itu, terdapat penambahan anggota lain ke dalam regu tersebut seperti: Inspektur pemula yang menyebalkan Shimotsuki Maki (sebagaimana yang pernah diperlihatkan di episode terakhir musim pertama), dan dua enforcer baru Sho Hinakawa dan Togane Sakuya. Maki terlihat lebih menyebalkan dibandingkan sikap Akane di awal-awal musim pertama di saat “kesetiaan” dan kepatuhannya terhadap sistem membuat saya jengkel dan membua saya berpikiran bahwa keberadaannya di dalam regu yang dipimpin oleh Akane hanya akan membuat hal semakin sulit dan rumit. Walaupun Maki memiliki peran yang cukup signifikan dalam alur cerita secara keseluruhan, terutama dalam hal menjadi orang yang paling mudah terpengaruh dan dieksploitasi oleh sisi jahat dari Sibyl itu sendiri, saya hanya ingin memukul wajahnya sekeras mungkin. Kejengkalan yang saya rasakan mungkin muncul karena saya sudah mengetahui niat jahat dan permasalahan yang dimiliki oleh Sibyl dari musim yang pertama.
Beralih dari hal tersebut, keberadaan Sho Hinakawa dan peran guru Kogami, Joji Saiga, yang bertambah terlihat menambahkan beberapa hal yang baru ke dalam anime ini. Melihat penampilan dan tingkah laku Sho mengingatkan saya pada sosok L dalam anime Death Note, walaupun Sho sendiri bukanlah seorang pencandu makanan manis dengan cara duduk yang aneh. Keahliannya dalam hal-hal terkait hologram dan sikapnya yang terlihat canggung menambahkan hal yang baru ke dalam kerumitan yang sudah ada dalam anime ini sejak dari musim yang pertama. Keberadaan Professor Saiga pun menambahkan senjata baru bagi Akane dan regunya.  Kemampuannya dalam mengamati micro-emotion dan/ atau micro-expression bersamaan dengan kecerdasannya terbukti menjadi sebuah asset ynag berharga bagi regu Akane tersebut.

Berbicara mengenai alur cerita, musim kedua ini masih memusatkan perhatiannya dalam mbahas permasalahan yang dimiliki oleh sistem Sibyl bersamaan dengan usaha Akane dalamhal mewujudkan pemahaman yang dimilikinya terkait keadilan, dan muculnya seorang sosok penjahat abnormal baru, Kirito Kamui. Sebagai seorang manusia yang anehnya dibuat dari bagian-bagian tubuh milik 184 orang yang sudah meninggal, Kamui tidak bisa dideteksi oleh Sibyl. Dengan tujuan yang dimilikinya untuk menghancurkan sistem yag ada dan membantu orang lain dalam membuat warna dan koefisiennya menjadi baik, Kamui mencoba untuk mencuri dominator dan menggunakan pistol khusus tersebut untuk menggulingkan sistem yang ada. Selain itu, Kamu juga mencoba untuk memperlihatkan kekurangan dan masalah yang dimiliki oleh sistem Sibyl dengan cara; mencuci otak seorang inspektur,  membuat inspektur membunuh orang-orang tidak bersalah dan para korban, dan mengubah warga-warga tidak bersalah menjadi pembunuh. Meskipun terdengar aneh, saya memiliki ketertarikan terhadap tokoh ini  walaupun metode yang digunakannya dalam memutarbalikan sistem dan membantu orang lain terlihat terlalu kejam.Hal tersebut pun terdengar ironis apabila kita sua tahu bahwa cara Sibyl mengendalikan warga-warga yang berada di bawah pengawasannya pun tidaklah lebih baik daripada usaha  yang Kamui lakukan.  

Pertanyaan “Warna apa?” terlihat menjadi tema utama dalam musim kedua ini di saat pertanyaan tersebut seakan menyindir ketidakteraturan dalam sistem yang ada. Pertanyaan tersebut, tentunya, tidak berkaitan dengan warna kulit seseorang akan tetapi merujuk pada warna suasana hati dan koefisien kriminal orang yang bersangkutan. Pertanyaan tersebut ditanyakan oleh Kamui secara berulang-ulang bersamaan dengan setiap tindak kejahatan yang dilakukannya, dan tindakannya tersebut terlihat ditujukan untuk “kelas sosial” yang berbeda dalam masyarakat; kepada para inspektur ketika Kamui membuat seorang inspektur membunuh enforcer-nya sendiri, kepada Akane,  masyarakat secara umum, dan, pada akhirnya, sistem Sibyl sendiri. Pendekatan yang diperlihatkan Sibyl terkait konsep keadilan pun kembali dipertanyakan. Kita kembali diperlihatkan dengan kekurangan dan kekejaman yang dimiliki oleh sistem ini.
Keberadaan tokoh Togane memang bisa dianggap sebagai sebuah pengganti untuk sikap kejam namun keren yang dimiliki oleh Kogami, akan tetapi perannya yang sebenarnya sebagai seorang pion untuk sistem Sibyl pun terbongkar. Selain itu, dalam dua episode terakhir musim ini kita bisa melihat bahwa Akane, pada akhirnya, terlihat “menggunakan” rencana Kamui untuk menghancurkan sistem yang ada. Walaupun pada teknisnya Akane tidak bergabung dengan Kamui (sebagaimana yang dikatakannya sendiri), Akane menggunakan kesempatan tersebut untuk membongkar sistem Sibyl dan menysun kembali panel yang membangun Sibyl sehingga Akane dan Kamui berhasil membuat Sibyl membuang “otak-otak jahat” yang dimilikinya, dan menerapkan metode yang baru dalam mengadili dan mengendalikan masyarakatnya.
Selain itu, merupakan suatu hal yang indah untuk melihat bagaimana Kamui pada akhirnya berhasil menyelamatkan Akane dari percobaan pembunuhan yang dilakukan oleh Togane terhadapnya walaupun Kamui sendiri terlihat harus mengorbankan hidupnya untuk itu. Saya menggunakan kata terlihat karena di bagian terakhir episode terakhir musim kedua ini saya yakin saya melihat sosok seorang Kamui yang sedang tersenyum dan duduk dengan nyaman di atas tempat tidurnya di sebuah rumah sakit.
Melihat banyaknya berita mengenai musim ketiga banyak bermunculan di internet, merupakan suatu hal yang sulit untuk tidak melihat episode terakhir yang dihadirkan sebagai petunjuk lain akan adanya cerita lanjutan. Petunjuk yang pertama; walaupun sistem Sibyl telah dirubah sebagai hasil dari usaha yang dilakukan Akane dan Kamui, Sibyl mengatakan bahwa proses perubahan tersebut akan memakan banyak waktu dan mereka berharap bahwa Akane akan tetap melakukan pekerjaannya sebagai inspektur dengan baik—sebuah petunjuk yang jelas terkait peran yang akan dimilikinya di musim yang akan datang, bersamaan dengan adanya kemungkinan bagi Sibyl untuk kembali mengulangi kesalahannya. Kemunculan Kamui dalam beberapa detik dari bagian terakhir episode terakhir yang diperlihatkan membuat saya penasaran akan keberadaan dan perannya sendiri di musim yang akan datang.

Kesimpulan?

Dalam hal dampak yang diberikan anime Psycho Pass ini terhadap pemikiran kita sebagai sebuah anime science-fiction, apa yang dihadirkan saya anggap cukup untuk dapat membuat kita bertanya-tanya mengenai apa yang dimaksud dengan keadilan dan moralitas itu—setidaknya itulah hal yang saya tangkap. Alur cerita yang dihadirkan tidak terlalu rumit, akan tetapi di saat yang sama alur tersebut bukalah sesuatu yang bisa dinikmati dengan mudahnya. Gaya gambar dan animasi yang dihadirkan tidak terlalu mengganggu dan terlihat sesuai dengan tema juga alur cerita yang dibawakan. Jika saya harus memberi nilai…mungkin 7 ¾ dari 10 adalah nilai yang pantas.

(Saya mohon maaf atas keterlambatan saya dalam menulis versi bahasa Indonesia dari ulasan ini. Alasannya ya...sok sibuk lah pokoknya. Gomenasai)


[i] https://en.wikipedia.org/wiki/Ling_Tosite_Sigure

1 comment:

  1. Kereen banget ulasannya gan! Ditunggu buat seri movie, sinners of the system, season 3, sama 1st inspector!

    ReplyDelete