Ulasan Anime: Psycho Pass Season 1 dan Season 2
Selamat datang. Bagi anda
yang secara tidak sengaja mengakses link
dan konten ini—bagaimanapun caranya—saya akan memberitahukan anda bahwa halaman
ini bukanlah tempat di mana anda akan menemukan jenis link download apapun untuk mengunduh anime yang akan saya bahas sebentar lagi. Ulasan ini memang datang
terlambat apabila melihat tanggal peluncuran anime-nya sendiri. Tidak hanya itu, saya meminta maaf terlebih
dahulu untuk segala kesalahan apapun yang muncul dalam ulasan ini karena ini
merupakan percobaan pertama saya dalam membuat tulisan semacam ini. Spoilers alert! Saya tidak yakin saya
akan mampu untuk menahan diri saya sendiri untuk tidak membocorkan seluruh alur
dalam anime ini, maka dari itu
apabila anda belum siap dan merasa keberatan untuk mendengar bocoran ceritanya
silahkan tonton dulu anime-nya dan
kembali lagi kesini…Ya?
Karena ini merupakan
ulasan anime pertama yang saya tulis
saya tidak akan mendikte setiap episode satu per satu. Pembahasan yang saya berikan
akan bersifat seluas-luasnya dan cenderung terpusat pada masing-masing season yang ada. Saya akan mencoba untuk
merubah cara pembahasan saya apabila anda menyarankan demikian—semoga—akan
tetapi untuk sekarang sepertinya akan lebih mudah bagi saya untuk menyimpulkan
ulasan saya terhadap anime yang ada
sebagai sebuah tulisan yang padat dan tersusun tanpa harus menceritakan kembali
detil-detil cerita dalam setiap episode-nya.
Season
Pertama
Season pertama dari anime ini terdiri atas 22 episode, dan masing-masing kurang
lebih berdurasi selama 20 menit. Formatnya secara keseluruhan tidak jauh
berbeda dengan anime lain pada
umumnya, berkaitan dengan durasi dan jumlah episode dalam masing-masing musimnya.
Anehnya, salinan yang saya tonton hanya terdiri atas 11 episode akan tetapi
durasinya mencapai 40 menit. Pada dasarnya, apa yang saya tonton tersebut
adalah penggabungan dari dua episode berdurasi normal, dan jika dihitung (22
episode dengan durasi 40 menit dibagi dengan 2 sama dengan 11 episode dengan
durasi 20 menit atau lebih) anda akan mengerti—semoga. Ceritanya kurang lebih
sama, akan tetapi penyajiannya terlihat lebih dipadatkan.
![]() |
| Sebuah contoh visual dari anime Psycho Pass ini |
Melanjutkan ulasan ini
pada hal-hal lain yang bersifat mendasar dan jelas terlihat, bagian pembuka
berasamaan dengan lagu yang mengiringinya terlihat cukup sederhana. Pemilihan
gaya visual dalam bagian pembukanya tidak terlihat terlalu berbeda dengan anime-nya, dan apa yang ditampilkan di
dalamnya terlihat tidak membocorkan terlalu banyak informasi, berkaitan dengan
petunjuk atas kematian-kematian tertentu, karakter yang muncul dan lain
sebagainya. Berbicara mengenai musik, saya tidak keberatan dengan pemilihan
lagunya akan tetapi apa yang dipilih bukanlah sesuatu yang saya mampu untuk
dengarkan berulang-ulang.
Gaya visual anime yang dipergunakan dalam Psycho Pass ini terlihat tidak jauh
berbeda dengan anime-anime lain yang
diluncurkan sekitaran tahun 2012 dan seterusnya, terutama berkaitan dengan
kekayaan juga kedalaman warna dan pergerakan yang halus dari gambar ke gambar.
Penekanan ekspresi wajah yang dihadirkan memang tidak seberlebihan apa yang
diperlihatkan dalam Attack on Titan,
akan tetapi penyajian yang ditunjukkan terlihat cukup untuk bias menggambarkan
kekacauan dan ketegangan yang terjadi sesuai dengan alur ceritanya.
![]() |
| Contoh penggunaan gambar CGI atau 3D dalam anime ini |
Tidak hanya itu,
penyajian visual yang dihadirkan juga terlihat mengingkut sertakan
gambar-gambar tiga dimensi dalam beberapa objeknya, seperti robot sebagaimana
yang diperlihatkan dalam gambar di atas, gedung-gedung sebagai latar, dan
lain-lain. Pendekatan tersebut bisa dianggap menjadi sebuah daya tarik visual
untuk anime tersebut; layaknya
pendekatan serupa yang dipergunakan dalam Gundam
Unicorn misalnya.
Kekerasan dan darah dapat
ditemukan dalam anime ini, dan bahkan
bisa dianggap salah satu unsur yang dijadikan bagian utama dari susunan anime tersebut. Saya tidak merasa
terlalu terganggu atas apa yang diperlihatkan, dan kebrutalan yang dihadirkan
terlihat tidak terlalu dilebih-lebihkan sebagaimana yang dimunculkan dalam Another misalkan. Tidak hanya itu, saya
bisa mengatakan bahwa kekerasan yang dihadirkan bukanlah kebrutalan yang paling
menjijikan yang pernah saya temukan dalam sebuah anime.
Alur cerita Psycho Pass ini berlatarkan Jepang pada
abad ke-22 di mana tingkah laku dan tingkat moralitas masyarakatnya dinilai di
bawah sebuah sistem yang bernama Sibyl.
Di masa yang akan datang orang-orang telah berhasil menemukan sebuah cara untuk
mengukur koefisien-koefisien psikologis yang kita miliki sehingga sistem yang
ada dapat dengan mudahnya menentukan hal-hal yang seharusnya dan dianggap dapat
membuat kita bahagia. Tidak hanya itu, sistem tersebut juga mampu menentukan
koefisien-koefisien tertentu yang dapat menunjukkan apakah seseorang itu “baik”
atau “jahat”.
![]() |
| Dominator |
Perhatian kita selama
alur cerita akan terpusat pada Akane atau Tsumemori Akane yang merupakan
seorang anggota baru di dalam sebuah lembaga seperti polisi yang mengendalikan
kekacauan apapun yang diakibatkan oleh seorang latent criminal yang melanggar aturan. Menariknya, cara yang coba
digunakan Sibyl untuk mengendalikan masyarakatnya adalah dengan memerintahkan latent criminal lain yang dianggapnya
memiliki potensi untuk menegakan “keadilan” yang ada. Pada dasarnya, pendekatan
yang diperlihatkan tersebut menempatkan seorang pembunuh untuk menghentikan
pembunuh yang lain. Tidak hanya itu, dalam menegakan peraturan tersebut baik
para inspector/ inspektur (orang yang
berkewenangan untuk mengendalikan dan memerintah para polisi “jahat” di bawah
sistem Sibyl) dan Enforcer (para
penjahat yang “bekerja” di bawah para inspektur dan Sibyl) dilengkapi dengan
pistol khusus bernama Dominator.
Pistol-pistol tersebut secara nirkabel terhubung dengan Sibyl dan segala fungsi
yang dijalankannya pun kembali dikendalikan oleh sistem yang ada.
Konflik yang disajikan
dalam alur cerita anime ini, pada akhirnya, menempatkan kita pada posisi yang
abu-abu, sebagaimana dengan pertanyaan-pertanyaan berkaitan dengan moralitas
dan keadilan yang juga dimunculkan dalam Death
Note—menurut pendapat saya sendiri tentunya. Meskipun tidak se-mistis buku
dan para dewa kematian dalam Death Note,
permasalahan yang diperlihatkan dalam sistem Sibyl dan prosedur pengadilan a la
Dominator pada akhirnya mengarah pada
pembongkaran dan munculnya keraguan atas keadilan yang ada di dalam masyarakat
yang dimunculkan. Tokoh antagonis utama dalam musim pertama ini bernama
Makishima Shougo. Makishima menciptakan sebuah kericuhan dalam masyarakat dan
bahkan di dalam pikiran para inspektur dan enforcer
melalui ketidaknormalannya yaitu kemampuan untuk tidak memiliki nilai koefisien
kejahatan yang tinggi meskipun setelah melakukan berbagaimacam kejahatan.
Nilai dari hukum yang
dibentuk Sibyl pun mulai hancur di saat kita bisa melihat bagaimana banyak
sekali orang-orang tidak bersalah yang salah diadili. Adegan di mana teman
Akane mati karena kesalahan perhitungan pada Dominator yang dimilikinya membuat saya jengkel. Insiden tersebut
menunjukkan kelemahan yang dimiliki oleh sistem Sibyl itu sendiri di saat
penilaian terhadap perilaku seseorang hanya dilandasi oleh angka dan koefisien
yang tidak selalu dapat dihubungkan dengan perbuatan baik ataupun jahat yang
sebenarnya dilakukan dan terjadi. Pendekatan tersebut bisa saja dikatakan adil
akan tetapi penilaian tersebut hanya datang dari sistem yang memang memunculkan
peraturan tersebut. Tidak hanya itu, hal lain yang membuat saya jengkel adalah
ketidakmampuan yang dimiliki Akane untuk bisa memutuskan sesuatu dengan
kemampuannya sendiri. Tumbuh besar di dalam sebuah masyarakat di mana
masing-masing aspek kehidupan seseorang telah ditentukan sebelumnya melalui koefisien
psikologis yang dimiliki, Akane terlihat tidak memiliki kemampuan untuk
memutuskan sesuatu dan hanya bisa mengikuti perintah dan peraturan Sibyl itu
sendiri. Akane memang diperlihatkan mengalami perubahan dalam hal pola
pemikiran dan tindakan selama musim 1 berlangsung, akan tetapi dalam perisitwa
tersebut kita bisa melihat seberapa kejam dan anehnya sistem Sibyl tersebut.
Selain itu, Akane memang mencoba untuk menembak Makishima sang penjahat dengan
pistol biasa akan tetapi dia gagal karena Akane tidak siap dan mampu (baik
secara fisik ataupun mental sebagai akibat dari pengaruh masyarakat yang ada
terhadap dirinya) untuk mengambil resiko dan mengemban tanggung jawab sebesar
itu.
Dalam episode terakhir
kita pun akhirnya diperlihatkan rumus perhitungan yang digunakan dalam Sibyl,
dan kita mengetahui bahwa kericuhan terkait Makishima pada dasarnya di landasi
oleh keinginan Sibyl untuk mengikutsertakan ketidaknormalan keadaan psikologis
yang dimiliki oleh Makishima sebagai bagian dari panel suara Sibyl—yang
tersusun atas banyak otak yang memiliki ketidaknormalan yang serupa dengan
Makishima. Keputusan alur cerita untuk membiarkan sistem Sibyl “menang” dapat
dengan mudahnya dianggap sebagai sebuah pemberian petunjuk akan adanya musim
kedua. Tidak hanya itu, akses yang secara tiba-tiba didapatkan Akane berkaitan
dengan wujud sebenarnya dari Sibyl menunjukkan sebuah masalah lain yang belum
benar-benar terpecahkan sehingga hanya terlihat sebagai petunjuk tambahan akan
adanya cerita lanjutan. Keadaan tersebut memperlihatkan adanya perbedaan
pendapat dan sudut pandang yang dimiliki Akane terkait dengan keadilan dan
peraturan yang diagung-agukan dalam masyarakat yang ditinggalinya. Selain itu,
keadaan yang serupa juga memperlihatkan sejauh mana kekuatan yang dimiliki oleh
sebuah sistem kuasa tanpa menghiraukan kekurangan dan “kejahatan” yang juga
dimiliki sistem yang bersangkutan. Meskipun Akane dan Kogame terlihat ragu dan
memiliki pendapat yang berbeda dengan Sibyl, tempat mereka di dalam masyarakat
yang hanya sebagai seorang individu sekaligus menjadi poin bagi sistem yang
mereka coba lawan mau tidak mau menjadi halangan yang terbesar bagi keduanya
untuk benar-benar memperbaiki atau bahkan merubah sistem tersebut.
Hal lain yang saya ingin
bahas lebih lanjut adalah keberadaan anekaragam rujukan yang diperlihatkan oleh
anime ini. Hal-hal terkait rujukan dalam bentuk ataupun karya apapun sudah
menjadi hal yang saya minati. Berbeda dengan beberapa anime lain yang mencoba
untuk menghadirkan rujukan sebagai sebuah satir seperti Sket Dance atau Gintama, rujukan-rujukan
yang diperlihatkan dalam Psycho Pass
terlihat lebih serius di saat apa yang dihadirkan merupakan tulisan-tulisan
atau wacana-wacana dari berbagai penulis, ahli, pakar atau bahkan filsuf di
luar Jepang yang cukup familiar—untuk
saya—dan mungkin cukup asing bagi orang pada umumnya. Salah satu rujukan yang
cukup menarik perhatian adalah buku bacaan yang dibaca Kogami saat sedang
memulihkan dirinya, “The Heart of
Darkness” karya Joseph Conrad. Sebagai seorang lulusan Sastra Inggris,
keberadaan karya sastra yang cukup ikonik di dalam sebuah anime merupakan
sebuah pemandangan yang aneh sekaligus menyenangkan. Walaupun saya belum
melakukan penelitian yang lebih lanjut terkait relevansi yang dimiliki oleh
buku tersebut dengan alur Psycho Pass
ini, keberadaan buku tersebut saja sudah menjadi sebuah alasan baru bagi saya
untuk mendalami karya anime yang semakin banyak ditonton dan disukai orang ini.
Selain itu, terdapat beberapa kesempatan di mana tokoh-tokoh terlihat
membicarakan berbagaimacam wacana dan teori-teori Barat yang berkaitan dengan
psikologi dan konsep masyarakat. Salah satunya adalah konsep milik Foucault
terkait dengan istilah panopticon;
sebuah konsep kendali atau kuasa yang menyerupai sebuah penjara di mana
terdapat sebuah menara kendali yang mengawasi dari tengah sementara ruang-ruang
penjaranya diletakan di sekelilingnya—baca tulisan Foucault-nya sendiri jika
anda ingin benar-benar memahami. Berkaitan dengan korelasinya dengan alur
cerita anime ini, hal yang cukup jelas terlihat adalah persamaan konsep
tersebut dengan sistem Sibyl yang dihadirkan. Sibyl terlihat ditempatkan
sebagai pusat dari masyarakat dan di saat yang sama memiliki kendali untuk
mengatur anggota masyarakatnya melalui berbagai macam metode yang sudah
dijabarkan—keberadaan Dominator,
perhitungan koefisien psikologis—walaupun pada akhirnya pola pengaturan
tersebut terlihat menempatkan orang-orang ke dalam sebuah penjara. Sebuah
metode pengurungan yang lambat laun menghilangkan keberadaan anggota-anggotanya
sebagai seorang individu dengan mengubahnya hanya menjadi angka dan koefisien
semata.
Season Kedua
![]() |
| Bagian pembukan Season kedua |
Melihat penjabaran saya yang terlihat sudah
terlalu banyak mengulas musim yang pertama, pemaparan saya terkait musim yang
kedua semoga tidak sama panjangnya.
Musim kedua Psycho
Pass ini lebih pendek dalam hal jumlah episodenya yang hanya 11 episode
saja. Dibandingkan dengan bagian pembuka yang dihadirkan dalam musim yang
pertama, bagian pembuka di musim kedua ini terlihat lebih rumit walau tanpa
menghadirkan gambar-gambar yang dapat membocorkan alur ceritanya secara
keseluruhan. Bagian pembuka yang dihadirkan terlihat terdiri atas banyak
gambar-gambar subliminal yang cukup
mengerikan dan ‘gelap’. Lagu “Enigmatic Feeling” oleh by Ling Tosite Sigure (凛として時雨 Rin Toshite Shigure,
lit. Cold Seasonal Rain)[i]
yang mengiringi gambar-gambar tersebut juga terlihat sesuai dengan kerumitdan
yang coba digambarkan melalui bagian pembuka musim kedua ini.
![]() |
| Mereka terlihat sama...atau setidaknya memiliki aura yang sama (?) |
Beralih dari hal tersebut,
keberadaan Sho Hinakawa dan peran guru Kogami, Joji Saiga, yang bertambah
terlihat menambahkan beberapa hal yang baru ke dalam anime ini. Melihat
penampilan dan tingkah laku Sho mengingatkan saya pada sosok L dalam anime Death Note, walaupun Sho sendiri
bukanlah seorang pencandu makanan manis dengan cara duduk yang aneh.
Keahliannya dalam hal-hal terkait hologram dan sikapnya yang terlihat canggung
menambahkan hal yang baru ke dalam kerumitan yang sudah ada dalam anime ini
sejak dari musim yang pertama. Keberadaan Professor Saiga pun menambahkan
senjata baru bagi Akane dan regunya.
Kemampuannya dalam mengamati micro-emotion
dan/ atau micro-expression
bersamaan dengan kecerdasannya terbukti menjadi sebuah asset ynag berharga bagi
regu Akane tersebut.
Berbicara mengenai alur
cerita, musim kedua ini masih memusatkan perhatiannya dalam mbahas permasalahan
yang dimiliki oleh sistem Sibyl bersamaan dengan usaha Akane dalamhal
mewujudkan pemahaman yang dimilikinya terkait keadilan, dan muculnya seorang
sosok penjahat abnormal baru, Kirito Kamui. Sebagai seorang manusia yang
anehnya dibuat dari bagian-bagian tubuh milik 184 orang yang sudah meninggal,
Kamui tidak bisa dideteksi oleh Sibyl. Dengan tujuan yang dimilikinya untuk
menghancurkan sistem yag ada dan membantu orang lain dalam membuat warna dan
koefisiennya menjadi baik, Kamui mencoba untuk mencuri dominator dan menggunakan pistol khusus tersebut untuk
menggulingkan sistem yang ada. Selain itu, Kamu juga mencoba untuk
memperlihatkan kekurangan dan masalah yang dimiliki oleh sistem Sibyl dengan
cara; mencuci otak seorang inspektur,
membuat inspektur membunuh orang-orang tidak bersalah dan para korban,
dan mengubah warga-warga tidak bersalah menjadi pembunuh. Meskipun terdengar
aneh, saya memiliki ketertarikan terhadap tokoh ini walaupun metode yang digunakannya dalam
memutarbalikan sistem dan membantu orang lain terlihat terlalu kejam.Hal
tersebut pun terdengar ironis apabila kita sua tahu bahwa cara Sibyl
mengendalikan warga-warga yang berada di bawah pengawasannya pun tidaklah lebih
baik daripada usaha yang Kamui lakukan.
Pertanyaan “Warna apa?”
terlihat menjadi tema utama dalam musim kedua ini di saat pertanyaan tersebut
seakan menyindir ketidakteraturan dalam sistem yang ada. Pertanyaan tersebut,
tentunya, tidak berkaitan dengan warna kulit seseorang akan tetapi merujuk pada
warna suasana hati dan koefisien kriminal orang yang bersangkutan. Pertanyaan
tersebut ditanyakan oleh Kamui secara berulang-ulang bersamaan dengan setiap
tindak kejahatan yang dilakukannya, dan tindakannya tersebut terlihat ditujukan
untuk “kelas sosial” yang berbeda dalam masyarakat; kepada para inspektur
ketika Kamui membuat seorang inspektur membunuh enforcer-nya sendiri, kepada Akane,
masyarakat secara umum, dan, pada akhirnya, sistem Sibyl sendiri.
Pendekatan yang diperlihatkan Sibyl terkait konsep keadilan pun kembali
dipertanyakan. Kita kembali diperlihatkan dengan kekurangan dan kekejaman yang
dimiliki oleh sistem ini.
Keberadaan tokoh Togane
memang bisa dianggap sebagai sebuah pengganti untuk sikap kejam namun keren
yang dimiliki oleh Kogami, akan tetapi perannya yang sebenarnya sebagai seorang
pion untuk sistem Sibyl pun terbongkar. Selain itu, dalam dua episode terakhir
musim ini kita bisa melihat bahwa Akane, pada akhirnya, terlihat “menggunakan”
rencana Kamui untuk menghancurkan sistem yang ada. Walaupun pada teknisnya
Akane tidak bergabung dengan Kamui (sebagaimana yang dikatakannya sendiri),
Akane menggunakan kesempatan tersebut untuk membongkar sistem Sibyl dan menysun
kembali panel yang membangun Sibyl sehingga Akane dan Kamui berhasil membuat
Sibyl membuang “otak-otak jahat” yang dimilikinya, dan menerapkan metode yang
baru dalam mengadili dan mengendalikan masyarakatnya.
Selain itu, merupakan
suatu hal yang indah untuk melihat bagaimana Kamui pada akhirnya berhasil
menyelamatkan Akane dari percobaan pembunuhan yang dilakukan oleh Togane
terhadapnya walaupun Kamui sendiri terlihat harus mengorbankan hidupnya untuk
itu. Saya menggunakan kata terlihat karena di bagian terakhir episode terakhir
musim kedua ini saya yakin saya melihat sosok seorang Kamui yang sedang
tersenyum dan duduk dengan nyaman di atas tempat tidurnya di sebuah rumah
sakit.
Melihat banyaknya berita
mengenai musim ketiga banyak bermunculan di internet, merupakan suatu hal yang
sulit untuk tidak melihat episode terakhir yang dihadirkan sebagai petunjuk
lain akan adanya cerita lanjutan. Petunjuk yang pertama; walaupun sistem Sibyl
telah dirubah sebagai hasil dari usaha yang dilakukan Akane dan Kamui, Sibyl
mengatakan bahwa proses perubahan tersebut akan memakan banyak waktu dan mereka
berharap bahwa Akane akan tetap melakukan pekerjaannya sebagai inspektur dengan
baik—sebuah petunjuk yang jelas terkait peran yang akan dimilikinya di musim
yang akan datang, bersamaan dengan adanya kemungkinan bagi Sibyl untuk kembali
mengulangi kesalahannya. Kemunculan Kamui dalam beberapa detik dari bagian
terakhir episode terakhir yang diperlihatkan membuat saya penasaran akan
keberadaan dan perannya sendiri di musim yang akan datang.
Kesimpulan?
(Saya mohon maaf atas keterlambatan saya dalam menulis versi bahasa Indonesia dari ulasan ini. Alasannya ya...sok sibuk lah pokoknya. Gomenasai)
[i]
https://en.wikipedia.org/wiki/Ling_Tosite_Sigure





Kereen banget ulasannya gan! Ditunggu buat seri movie, sinners of the system, season 3, sama 1st inspector!
ReplyDelete