Friday, 4 March 2016

Sailor Moon Garis Keras

Ulasan Anime: Kill la Kill

Selamat datang, lagi, semuanya. Jika kalian memperhatikan dan membaca judul ulasan ini, kalian pasti tahu anime apa yang akan saya bahas dalam kesempatan kali ini. Melihat ulasan saya sebelumnya mengenai anime Psycho Pass, saya sadar bahwa ulasannya terlihat terlalu panjang—salah satu kebiasaan buruk yang saya memiliki dalam menulis, maaf. Maka dari itu, dengan alasan tersebut, saya akan mencoba untuk merubah format ulasan yang ada. Saya akan membagi pembahasan ke dalam beberapa bagian; Visual, Alur Cerita, dan Penokohan. Anda akan mengerti nantinya, dan maka dari itu mari kita mulai ulasan anime ini. Oh, dan satu hal lagi, Spoiler Alert!!

Visual

Berbicara masalah “penampilan” atau gaya anime dari Kill la Kill, anime ini terlihat sangat anime sekali—terlalu banyak kata “anime” dalam satu kalimat. Dibandingkan dengan Psycho Pass yang terlihat tajam dan realistis, Kill la Kill terlihat seperti kartun dan benar-benar seperti anime dalam hal-hal yang dapat dengan diperhatikan secara jelas. Jika anda baru saja terjun ke dalam dunia anime...anda mungkin akan sedikit merasa kaget, secara positif tentunya. Jika anda pernah melihat kartun apapun, anda mungkin tidak akan terlalu kaget dengan gaya visual yang ditampilkan.

Darah dan kekerasan memang ada dalam anime ini akan tetapi kedua hal tersebut terlihat dileburkan secara baik dengan visual anime secara keseluruhan. Pada umumnya, kekerasan, luka-luka, dan komedi slap-stick yang dihadirkan terlihat seperti gabungan antara Tom and Jerry, Adventure Time, dan The Amazing World of Gumball—anda sekarang tahu jenis kartun seperti apa yang sering saya tonton—bersamaan dengan darah dan beberapa luka yang terlihat cartoony. Apa yang ditampilkan tidak mengganggu ataupun mengerikan sama sekali. Bisa dikatakan, kekerasan yang diperlihatkan justru menambah nilai komedi ke dalam anime-nya secara keseluruhan. 

Contoh dari ciri khas Kill la Kill dalam hal huruf Jepang merah dan tegasnya.
Seperti yang bisa dilihat dari gambar di atas, salah satu ciri-ciri khusus yang dimiliki oleh anime ini adalah kecenderungan untuk menggunakan dan menunjukkan huruf-huruf Jepang yang BESAR dan MERAH dalam menekankan kata-kata ataupun topik pembicaraan tertentu. Hal tersebut terlihat selaras dengan bagaimana judul anime-nya sendiri diperlihatkan dalam bagian pembuka. Selain itu, gaya visual tersebut juga terlihat sesuai dengan anime-nya sendiri yang berdarah dan BERANI, bukan?

Berbicara soal berani, huruf-huruf besar dan merah tersebut bukanlah satu-satunya hal yang memiliki keberanian dan ketegasan dalam gaya visual anime ini. Karakter-karakter dalam Kill la Kill ini juga memiliki desain kostum yang “tegas” dan berani. Walaupun hal ini merupakan bagian dari karakter, saya akan membahasnya di sini. Ketika mereka sedang mengenakan baju seragam biasa mereka, mereka memang terlihat cukup keren dan tegas, dalam aritan bahwa ternyata tokoh-tokoh anime dapat terlihat se-keren itu walau hanya menggunakan seragam. Akan tetapi, ketika mereka mengeluarkan kekuatan mereka yang sebenarnya yang dibantu dengan Life Fibers yang menyusun seragam mereka…bisa dikatakan pakaian yang mereka kenakan hanya tersusun dari sedikit sekali kain dan benang. Tahapan perubahan milik Ryūko dan Satsuki terlihat serupa dengan tahapan perubahan tokoh-tokoh pahlawan perempuan dalam anime lain walaupun perubahan yang dimiliki mereka terlihat menunjukkan lebih banyak bagian tubuh dibandingkan dengan perubahan para Sailor Moon. Kostum yang Ryūko dan Satsuki miliki terlihat seperti pakaian dalam, lingerie, atau pakaian renang yang seksi dengan pelindung pundak yang keren walaupun terlihat aneh. Saya akan berbohong apabila harus berkata bahwa saya keberatan dengan desain kostum yang ada, akan tetapi…ketika saya melihatnya di awal-awal anime ini…desain kostumnya terlihat terlalu berlebihan untuk selera saya.

Selain itu, hal yang sama—walaupun tidak seluruhnya serupa—juga diterapkan terhadap tokoh laki-laki dalam anime ini. Seragam bintang tiga milik Gamagōri, dalam keadaannya yang sudah berubah, terlihat seperti sebuah kostum laki-laki yang ikut dalam klub BDSM. Sebuah seragam super yang dapat “menghukum” orang yang menggunakannya hingga “klimaks” dan mencapai kekuatan maksimumnya, terlalu banyak innuendo yang bisa terlihat. Seragam bintang tiga milik Nonon pun tidak lebih baik daripada kostum yang dimiliki Ryūko dan Satsuki. Seragam milik Sanageyama terlihat cukup keren untuk selera saya sebagai seorang penggemar mecha—minus tongkat kendo lonjong yang bisa muncul dari beberapa bagian kostum tersebut. Oh ya, seragam para anggota Nudist Beach pun tidak bisa kita lupakan. Menggunakan alat pelindung dan perlengkapan perang untuk menutupi bagian intim seseorang memang unik, akan tetapi kostum tersebut merupakan salah satu desain baju perang minim pelindung paling aneh yang pernah saya temukan.

Penokohan

Beralih dari pembahasan mengenai aspek-aspek visual dalam anime ini, dalam bagian ini saya akan membahas mengenai tokoh dan penokohan beberapa karakter Kill la Kill. Karena saya telah membicarakan desain fisik dan kostum tokoh dalam bagian yang pertama, apa yang akan saya tekankan dalam bagian ini berkaitan dengan sifat dan watak mereka secara keseluruhan.
Mari kita mulai dengan protagonis utama, Ryūko Matoi. Dia itu ganas, keres, ambisius, dan sedikit keras kepala. Walaupun demikian, Ryūko terlihat memiliki sisi moe dengan sikapnya yang polos, terutama ketika dia harus menghadapi keadaan di mana dia harus menggunakan pakaian yang cukup terbuka untuk bertarung dan memperoleh kekuatan penuh dari kamui yang dimilikinya. Ryūko memang mampu untuk beradaptasi dalam hal menjadi berani dan nyaman dalam mengenakan kostumnya, akan tetapi sisi moe yang dimilikinya tidak hlang begitu saja ketika kita bisa melihat bagaimana dirinya bersikap ketika beberapa orang mesum mencoba untuk bertingkah nakal terhadapnya. Apa yang diperlihatkan merupakan sebuah penggabungan yang cukup seimbang antara sikap yang keren dan kepolosan yang berujung menambahkan unsur-unsur komedi.

Terkait keberadaan tokoh antagonis dalam anime ini, apa yang dihadirkan terlihat cukup rumit. Dalam banyak episode, Kiryūin Satsuki dan regu yang dipimpinnya berperan sebagai tokoh-tokoh antagonis yang utama, akan tetapi karena plot twist yang dihadirkan mereka pun pada akhirnya membantu Ryūko dan kawan-kawannya dalam menghentikan Ragyō Kiryūin dan Nui Harime dengan rencana mereka untuk menyelimuti bumi dengan Life Fibers.

Berbicara soal Satsuki, dia terlihat sebagai tokoh yang cukup sesuai dengan perannya sebagai seorang antagonis. Sikapnya yang arogan dan mendominasi tidak hanya kepada Ryūko akan tetapi juga kepada seluruh anggota akademi yang dimilikinya terlihat sesuai dengan perannya sebagai seorang antagonis. Walaupun keberadaan plot twist menjadi saat di mana Satsuki terlihat menunjukkan sisi lembutnya, hal tersebut tidak menghilangkan sikap dingin dan tsundere yang dimilikinya secara menyeluruh.

Beralih pada sosok Ragyō dan Nui Harime, ya…mereka memang antagonis sih. Sikap dan sifat yang dimiliki Ragyō bisa disamakan dengan tokoh-tokoh ibu tiri dalam sinetron, dalam artian bahwa dia tidak terlihat begitu menyeramkan dan lebih kejam apabila dibandingkan dengan Makishima ataupun Kirito dalam Psycho Pass. Berbicara soal Nui…bisa dikatakan dia hanyalah seorang perempuan psikopat yang memiliki kekuatan super. Walaupun kehadirannya dalam anime ini terlihat lebih signifikan dan menarik lebih banyak perhatian dibandingkan keberadaan Ragyō, mood yang dimiliki anime ini sangat konyol dan komikal sehingga kegilaan dan sifatnya sebagai seorang psikopat tidak begitu terlihat sebagai sebuah ancaman, dan kurang mampu menciptakan ketegangan ketika saya melihatnya muncul.

Adegan "Hallelujah" khas milik Mako.
Berbeda dari sosok Ryūko yang keren dan Satsuki yang dominan, keberadaan Mako Mankanshoku terlihat memiliki peran sebagai tokoh komikal dalam anime ini. Ya…semua anggota keluarga Mankanshoku sebenarnya terlihat memiliki peran komikal yang sama. Apa yang digambarkan dalam gambar di atas adalah adegan “Hallelujah” milik Mako di mana dia mencoba untuk memotivasi dan mencairkan suasana dengan gestur-gestur menggelikan, yang terlihat berkaitan dengan permainan kata dalam bahasa Jepang—saya berharap saya memiliki pengetahuan yang cukup dalam bahasa Jepang untuk bisa memahami bagian tersebut. Selain itu, sifat dan watak yang dimilikinya pun terlihat sesuai dengan peran komikal yang dimilikinya dengan sikapnya yang gampang tidur dan kelucuan yang diperlihatkannya.

Para panglima bintang tiga yang mencakup Nonon, Gamagōri, Inumuta dan Sanageyama pun memiliki adegan-adegan keren dan lucu dalam anime ini. Walaupun mereka digambarkan sebagai sosok-sosok yang cukup menyeramkan di bagian awal anime, dalam episode-episode yang lain mereka juga diperlihatkan memiliki sifat-sifat komikal dan beberapa stereotipe yang sering kita temukan dalam anime. Ketua kelompok Nudist Beach, Mikisugi, dengan sifat exhibitionist-nya memang terlihat lucu pada awalnya, akan tetapi sifatnya tersebut terlihat terlalu diulang-ulang. Selain itu, kebiasaan Tsumugu yang selalu menyingkat perkataannya menjadi satu-hingga-tiga-hal-yang-harus-orang-tahu terlihat menghibur. Kamui milik Ryūko, Senketsu juga merupakan tambahan tokoh yang cukup unik secara keseluruhan dalam hal menambah beberapa unsur dramatis dan juga adegan-adegan komikal lain ke dalam anime ini secara keseluruhan.

Alur

Anime ini pada dasarnya menceritakan tentang dua orang anak perempuan yang pada akhirnya harus melawan ibunya sendiri yang merupakan seorang alien dan memiliki rencana jahat untuk menghancurkan bumi. Pilihan yang dihadirkan dengan menggunakan seragam yang memiliki kekuatan super sebagai “senjata” utama terlihat serupa dengan konsep dalam cerita Sailor Moon, atau serial tokusatsu lain di mana protagonis yang ditampilkan hanya mendapatkan kekuatan tertentu ketika menggunakan kostum tertentu. Walaupun, pada akhirnya, kita mengetahui bahwa pakaian super tidak begitu berarti ketika tubuh seseorang dibuat dari fibers yang memiliki kekuatan super—terkait keadaan Ryūko tentunya. Selain itu, kekuatan super yang dipermasalahkan pun pada akhirnya ditentukan oleh semangat juang dan niatan baik yang dimiliki oleh tokoh yang bersangkutan, bersamaan dengan gimmick penggabungan kekuatan yang serupa dengan beberapa anime lain yang memiliki tema yang sama terkait kekuatan super.
Berbicara mengenai tempo dari alur ceritanya sendiri, apa yang dihadirkan terlihat cukup lambat dalam hal seberapa cepat anime yang ada mampu membuat saya tertarik dan bersemangat dalam menonton setiap episodenya. Keberadaan plot twist di mana kita menemukan bahwa Ryūko dan Satsuki itu bersaudara memang mengejutkan akan tetapi hal tersebut tidak benar-benar membuat saya terkejut. Saya tidak menebak bahwa hal itu akan terjadi, akan tetapi ketika hal tersebut benar-benar terjadi apa yang saya hanya bisa katakan adalah “Oh, baiklah”. Saya sendiri tidak tahu pasti apakah mood dan gaya visual anime-nya yang menjadi penyebab rendahnya harapan saya akan alur cerita yang benar-benar dalam, ataukah kurangnya daya tarik dari alur cerita yang dihadirkan secara keseluruhan. Mungkin, apa yang menjadi penyebabnya adalah kebiasaan saya sendiri yang terlalu sering menonton anime yang terlalu “berat” sehingga saya tidak bisa untuk benar-benar tertarik dengan alur cerita yang diperlihatkan Kill la Kill ini. Apa yang dihadirkan tidak benar-benar buruk ataupun tidak bisa dimengerti. Apa yang dihadirkan hanyalah alur cerita anime yang sering kita temukan. Anime ini memunculkan perasaan yang sama ketika saya menonton Himouto Umaru-Chan—Saya tonton, saya tertawa, saya menyelesaikannya, lanjut yang lain!

Kesimpulan

Secara singkatnya, Kill la Kill adalah anime aksi kasual yang harus anda tonton. Anime ini cocok untuk ditonton apabila anda baru saja menyelesaikan anime yang terlalu membuat anda bingung sehingga anda bisa dapat menikmati alur cerita yang cukup menarik dengan sedikit twist, humor yang cukup baik, dan kostum-kostum yang seksi. Dalam hal nilai, saya akan memberikan nilai 6,5 dari 10. Anime ini adalah anime yang cukup ampuh dalam hal membantu anda untuk menghabiskan waktu, untuk bisa tertawa, dan ya…tidak ada yang lebih.     
Referensi tambahan:
http://kill-la-kill.wikia.com/wiki/Kill_la_Kill_Wiki

No comments:

Post a Comment