Ulasan Anime: Kill la Kill
Selamat datang, lagi, semuanya. Jika kalian memperhatikan dan membaca judul ulasan ini, kalian pasti tahu anime apa yang akan saya bahas dalam kesempatan kali ini. Melihat ulasan saya sebelumnya mengenai anime Psycho Pass, saya sadar bahwa ulasannya terlihat terlalu panjang—salah satu kebiasaan buruk yang saya memiliki dalam menulis, maaf. Maka dari itu, dengan alasan tersebut, saya akan mencoba untuk merubah format ulasan yang ada. Saya akan membagi pembahasan ke dalam beberapa bagian; Visual, Alur Cerita, dan Penokohan. Anda akan mengerti nantinya, dan maka dari itu mari kita mulai ulasan anime ini. Oh, dan satu hal lagi, Spoiler Alert!!
Selamat datang, lagi, semuanya. Jika kalian memperhatikan dan membaca judul ulasan ini, kalian pasti tahu anime apa yang akan saya bahas dalam kesempatan kali ini. Melihat ulasan saya sebelumnya mengenai anime Psycho Pass, saya sadar bahwa ulasannya terlihat terlalu panjang—salah satu kebiasaan buruk yang saya memiliki dalam menulis, maaf. Maka dari itu, dengan alasan tersebut, saya akan mencoba untuk merubah format ulasan yang ada. Saya akan membagi pembahasan ke dalam beberapa bagian; Visual, Alur Cerita, dan Penokohan. Anda akan mengerti nantinya, dan maka dari itu mari kita mulai ulasan anime ini. Oh, dan satu hal lagi, Spoiler Alert!!
Visual
Berbicara masalah “penampilan” atau gaya anime dari Kill la Kill, anime ini terlihat sangat anime sekali—terlalu banyak kata “anime” dalam satu kalimat. Dibandingkan
dengan Psycho Pass yang terlihat
tajam dan realistis, Kill la Kill
terlihat seperti kartun dan benar-benar seperti anime dalam hal-hal yang dapat dengan diperhatikan secara jelas.
Jika anda baru saja terjun ke dalam dunia anime...anda
mungkin akan sedikit merasa kaget, secara positif tentunya. Jika anda pernah
melihat kartun apapun, anda mungkin tidak akan terlalu kaget dengan gaya visual
yang ditampilkan.
Darah dan kekerasan memang ada dalam anime ini akan tetapi kedua hal tersebut terlihat dileburkan secara
baik dengan visual anime secara
keseluruhan. Pada umumnya, kekerasan, luka-luka, dan komedi slap-stick yang dihadirkan terlihat
seperti gabungan antara Tom and Jerry,
Adventure Time, dan The Amazing World of Gumball—anda
sekarang tahu jenis kartun seperti apa yang sering saya tonton—bersamaan dengan
darah dan beberapa luka yang terlihat cartoony.
Apa yang ditampilkan tidak mengganggu ataupun mengerikan sama sekali. Bisa
dikatakan, kekerasan yang diperlihatkan justru menambah nilai komedi ke dalam anime-nya secara keseluruhan.
![]() |
| Contoh dari ciri khas Kill la Kill dalam hal huruf Jepang merah dan tegasnya. |
Seperti yang bisa dilihat dari gambar di atas, salah satu
ciri-ciri khusus yang dimiliki oleh anime
ini adalah kecenderungan untuk menggunakan dan menunjukkan huruf-huruf Jepang
yang BESAR dan MERAH dalam menekankan kata-kata ataupun topik pembicaraan
tertentu. Hal tersebut terlihat selaras dengan bagaimana judul anime-nya sendiri diperlihatkan dalam
bagian pembuka. Selain itu, gaya visual tersebut juga terlihat sesuai dengan anime-nya sendiri yang berdarah dan
BERANI, bukan?
Berbicara soal berani, huruf-huruf besar dan merah tersebut
bukanlah satu-satunya hal yang memiliki keberanian dan ketegasan dalam gaya
visual anime ini. Karakter-karakter
dalam Kill la Kill ini juga memiliki
desain kostum yang “tegas” dan berani. Walaupun hal ini merupakan bagian dari
karakter, saya akan membahasnya di sini. Ketika mereka sedang mengenakan baju
seragam biasa mereka, mereka memang terlihat cukup keren dan tegas, dalam
aritan bahwa ternyata tokoh-tokoh anime
dapat terlihat se-keren itu walau hanya menggunakan seragam. Akan tetapi,
ketika mereka mengeluarkan kekuatan mereka yang sebenarnya yang dibantu dengan Life Fibers yang menyusun seragam
mereka…bisa dikatakan pakaian yang mereka kenakan hanya tersusun dari sedikit
sekali kain dan benang. Tahapan perubahan milik Ryūko dan Satsuki terlihat serupa dengan tahapan
perubahan tokoh-tokoh pahlawan perempuan dalam anime lain walaupun perubahan yang dimiliki mereka terlihat
menunjukkan lebih banyak bagian tubuh dibandingkan dengan perubahan para Sailor Moon. Kostum yang Ryūko dan
Satsuki miliki terlihat seperti pakaian dalam, lingerie, atau pakaian renang yang seksi dengan pelindung pundak
yang keren walaupun terlihat aneh. Saya akan berbohong apabila harus berkata
bahwa saya keberatan dengan desain kostum yang ada, akan tetapi…ketika saya
melihatnya di awal-awal anime ini…desain
kostumnya terlihat terlalu berlebihan untuk selera saya.
Selain itu, hal yang sama—walaupun tidak seluruhnya
serupa—juga diterapkan terhadap tokoh laki-laki dalam anime ini. Seragam bintang tiga milik Gamagōri, dalam keadaannya yang sudah
berubah, terlihat seperti sebuah kostum laki-laki yang ikut dalam klub BDSM.
Sebuah seragam super yang dapat “menghukum” orang yang menggunakannya hingga
“klimaks” dan mencapai kekuatan maksimumnya, terlalu banyak innuendo yang bisa terlihat. Seragam
bintang tiga milik Nonon pun tidak lebih baik daripada kostum yang dimiliki Ryūko
dan Satsuki. Seragam milik Sanageyama terlihat cukup keren untuk selera saya
sebagai seorang penggemar mecha—minus
tongkat kendo lonjong yang bisa muncul dari beberapa bagian kostum tersebut. Oh
ya, seragam para anggota Nudist Beach
pun tidak bisa kita lupakan. Menggunakan alat pelindung dan perlengkapan perang
untuk menutupi bagian intim seseorang memang unik, akan tetapi kostum tersebut
merupakan salah satu desain baju perang minim pelindung paling aneh yang pernah
saya temukan.
Penokohan
Beralih dari pembahasan mengenai aspek-aspek visual dalam anime ini, dalam bagian ini saya akan
membahas mengenai tokoh dan penokohan beberapa karakter Kill la Kill. Karena saya telah membicarakan desain fisik dan
kostum tokoh dalam bagian yang pertama, apa yang akan saya tekankan dalam
bagian ini berkaitan dengan sifat dan watak mereka secara keseluruhan.
Mari kita mulai dengan protagonis utama, Ryūko Matoi. Dia itu ganas, keres,
ambisius, dan sedikit keras kepala. Walaupun demikian, Ryūko terlihat
memiliki sisi moe dengan sikapnya yang polos, terutama ketika dia harus
menghadapi keadaan di mana dia harus menggunakan pakaian yang cukup terbuka
untuk bertarung dan memperoleh kekuatan penuh dari kamui yang dimilikinya. Ryūko memang mampu untuk beradaptasi
dalam hal menjadi berani dan nyaman dalam mengenakan kostumnya, akan tetapi
sisi moe yang dimilikinya tidak hlang begitu saja ketika kita bisa melihat
bagaimana dirinya bersikap ketika beberapa orang mesum mencoba untuk bertingkah
nakal terhadapnya. Apa yang diperlihatkan merupakan sebuah penggabungan yang
cukup seimbang antara sikap yang keren dan kepolosan yang berujung menambahkan
unsur-unsur komedi.
Terkait keberadaan tokoh antagonis dalam anime ini, apa yang dihadirkan terlihat cukup rumit. Dalam banyak
episode, Kiryūin Satsuki
dan regu yang dipimpinnya berperan sebagai tokoh-tokoh antagonis yang utama,
akan tetapi karena plot twist yang
dihadirkan mereka pun pada akhirnya membantu Ryūko dan kawan-kawannya dalam
menghentikan Ragyō Kiryūin dan Nui Harime dengan rencana mereka untuk
menyelimuti bumi dengan Life Fibers.
Berbicara
soal Satsuki, dia terlihat sebagai tokoh yang cukup sesuai dengan perannya
sebagai seorang antagonis. Sikapnya yang arogan dan mendominasi tidak hanya
kepada Ryūko akan tetapi juga kepada seluruh anggota akademi yang dimilikinya
terlihat sesuai dengan perannya sebagai seorang antagonis. Walaupun keberadaan plot twist menjadi saat di mana Satsuki
terlihat menunjukkan sisi lembutnya, hal tersebut tidak menghilangkan sikap
dingin dan tsundere yang dimilikinya
secara menyeluruh.
Beralih pada
sosok Ragyō dan Nui Harime, ya…mereka memang antagonis sih. Sikap dan sifat
yang dimiliki Ragyō bisa disamakan dengan tokoh-tokoh ibu tiri dalam sinetron,
dalam artian bahwa dia tidak terlihat begitu menyeramkan dan lebih kejam
apabila dibandingkan dengan Makishima ataupun Kirito dalam Psycho Pass. Berbicara soal Nui…bisa dikatakan dia hanyalah seorang
perempuan psikopat yang memiliki kekuatan super. Walaupun kehadirannya dalam anime ini terlihat lebih signifikan dan
menarik lebih banyak perhatian dibandingkan keberadaan Ragyō, mood yang
dimiliki anime ini sangat konyol dan
komikal sehingga kegilaan dan sifatnya sebagai seorang psikopat tidak begitu
terlihat sebagai sebuah ancaman, dan kurang mampu menciptakan ketegangan ketika
saya melihatnya muncul.
Referensi tambahan:
http://kill-la-kill.wikia.com/wiki/Kill_la_Kill_Wiki


No comments:
Post a Comment