Review Anime: Danshi Koukousei no
Nichijou/ Daily Lives of High School Boys
Jumpa
kembali dalam ulasan anime bersama saya, penulis utama—dan satu-satunya—blog
ini. Apa yang akan saya akan bahas dalam review ini adalah sebuah anime
berjudul Danshi Koukousei no Nichijou (Daily Lives of High School Boys) atau
Nichijou untuk lebih singkatnya. Anime ini dikategorikan sebagai anime komedi
akan tetapi di dalamnya juga terdapat beberapa ciri-ciri anime slice-of-life. Tanpa menghamburkan
banyak lagi kata-kata, mari kita mulai saja ulasannya.
Visual
Berbicara
mengenai visual dan gaya anime dari Nichijou ini, apa yang ditampilkan
memang terlihat seperti anime akan
tetapi tidak terlalu berlebihan seperti Kill
la Kill dan tidak terlalu tajam seperti Psycho
Pass.
![]() |
| Hidenori sedang menikmati matahari yang sedang surut. |
Seperti yang bisa dilihat pada gambar di atas, tidak ada hal ataupun
aspek visual yang benar-benar terlihat menonjol. Tidak dalam konteks yang
negatif akan tetapi apa yang dihadirkan dalam anime ini terlihat seperti anime
pada kebanyakan, dan apa yang ditekankan dalam anime ini pun pada dasarnya hanyalah kehidupan sehari-hari
anak-anak sekolah.
Kekerasan
memang dihadirkan dalam anime ini
akan tetapi hanya sebagai bagian dari adegan-adegan komedi yang
diperlihatkannya. Apa yang dihadirkan terlihat layaknya kekerasan lucu yang
diperlihatkan dalam Kill la Kill, walaupun
tidak terlalu dilebih-lebihkan. Apa yang dipertunjukkan cukup membuat anime ini terlihat lucu. Selain itu, Nichijou juga mengikutsertakan
ekspresi-ekspresi wajah lucu dalam menunjukkan reaksi-reaksi yang dimiliki oleh
karakter-karakternya sebagai bagian dari aspek komedi yang dimiliki oleh anime ini.
Penokohan
Merujuk pada
wiki, protagonis utama dari anime ini
adalah Tadakuni, Hidenori dan Yoshitake. Walaupun demikian, peran mereka
bertiga sebagai protagonis tidak membuat perhatian anime ini harus selalu ditujukan pada ketiga tokoh tersebut.
![]() |
| Sebagian besar tokoh yang ada di Nichijou--dalam kostumnya masing-masing. |
Banyak
sekali tokoh-tokoh lain yang juga ikut tampil dalam anime ini. Masing-masing
dari tokoh tersebut terlihat memiliki satu sifat utama tanpa adanya lapisan-lapisan
kepribadian lain yang bisa menambah nilai penokohan mereka. Meskipun kedalaman
karakter tiap tokohnya terlihat kurang, sebagai sebuah anime komedi anekaragam sifat yang diwakilkan oleh masing-masing
tokoh dirasa cukup dalam hal menambahkan nilai-nilai humor ke dalam anime ini secara keseluruhan. Sebagai
contohnya, sifat Mitsuo yang terlihat selalu mendapatkan kemalangan merupakan
salah satu hal yang selalu membuat saya tertawa di saat menonton anime ini. Selain itu, pengisian suara
dari masing-masing tokoh dirasa cukup baik dan cukup lucu di saat apa yang
dihadirkan bisa sesuai dengan sifat dari masing-masing tokoh.
Sebagai
tambahan untuk tokoh-tokohnya yang kebanyakan laki-laki, tokoh murid-murid
perempuan pun juga dihadirkan dalam anime
ini. Walaupun demikian, berbeda dengan banyak anime yang lain tokoh perempuan dalam Nichijou terlihat tidak dijadikan sorotan utama dibandingkan dengan
tokoh-tokoh laki-lakinya. Beberapa tokoh perempuannya bahkan terlihat disensor
dengan cara ditutupi bagian matanya oleh teknik pemberian bayangan atau shading, dan nama dari tokoh perempuan
tersebut juga jarang sekali disebutkan. Beberapa tokoh perempuan lain juga ada
yang tidak di-’sensor’ dan diperkenalkan secara biasa seperti tiga tokoh
perempuan dalam bagian khusus perempuan di setiap episode dan Ringo-chan, sang
ketua OSIS yang lucu dan tomboy.
Alur
Berbeda dari
anime kebanyakan, alur dalam Nichijou memang berlanjut akan tetapi
apa yang dihadirkan dibagi menjadi beberapa segmen dalam setiap episodenya. Setiap
segmen kecil memiliki judul dan temanya masing-masing, dan setiap segmen
cenderung menekankan masalah anak sekolahan tertentu; dari rasa penasaran
mereka dalam mengenakan rok anak perempuan hingga permainan peran yang mereka
lakukan ketika menemukan seonggok tongkat di jalan.
Beberapa
segmen mengikutsertakan komedi fisik dan slapstick,
beberapa segmen yang lain menghadirkan komedi verbal dan kontekstual—seperti
sebuah sitkom mungkin. Segmen-segmen tersebut bisa membuat kita tertawa, akan
tetapi beberapa dari mereka yang paling lucu adalah segmen-segmen dengan tema
yang bisa kita hubungkan dengan kehidupan kita sehari-hari juga. Sebagai
contohnya, segmen di mana Motoharu terlihat kesulitan untuk mengendarai sepeda
karena ketidakmampuannya dalam mengendarai sepeda membuat saya tertawa
terbahak-bahak—ya, saya tidak bisa naik sepeda, puas?



No comments:
Post a Comment